Warning: array_slice() expects parameter 1 to be array, boolean given in /home/pelajarj/public_html/wp-content/plugins/my-twitter-widget/widget.php on line 164

Warning: key() expects parameter 1 to be array, null given in /home/pelajarj/public_html/wp-content/plugins/my-twitter-widget/widget.php on line 164
Pelajar Jogja, Santun, Berbudaya, Gemar Membaca
Pelajar Santun Gemar Membaca

URGENSI PENDIDIKAN BERKARAKTER TERHADAP MOTIVASI MEMBANGUN KEMANDIRIAN MASYARAKAT ISLAM INDONESIA

Oleh : Lily Retno Anggraeni (PW PII Yogyakarta Besar 2010-2012)

BAB I

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Karakter bangsa merupakan aspek penting dari kualitas SDM karena turut menentukan masa depan bangsa. Karakter yang berkualitas perlu dibentuk dan dibina sejak usia dini. Usia dini merupakan masa emas namun kritis bagi pembentukan karakter seseorang. Bahkan menurut Thomas Lickona (seorang profesor pendidikan dari Cortland University) mengungkapkan bahwa ada sepuluh tanda zaman yang kini terjadi, tetapi harus diwaspadai karena dapat membawa bangsa menuju jurang kehancuran. 10 tanda zaman itu adalah :

  1. Meningkatnya kekerasan di kalangan remaja/masyarakat
  2. Penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk atau tidak baku
  3. Menguatnya pengaruh geng dalam tindak kekerasan
  4. Meningkatnya perilaku merusak diri, seperti penggunaan narkoba dan alkohol serta seks bebas
  5. Semakin kaburnya pedoman baik dan buruk
  6. Menurunnya etos kerja
  7. Rendahnya rasa tanggung jawab individu dan kelompok
  8. Semakin rendahnya rasa hormat terhadaporang tua dan guru
  9. Membudayanya kebohongan
  10. Adanya rasa saling curiga dan kebencian antar sesama

Sektor pendidikan memiliki peran yang strategis dan fungsional dalam upaya membangun masyarakat di Indonesia. Pendidikan senantiasa berusaha untuk menjawab kebutuhan dan tantangan yang muncul di kalangan masyarakat sebagai konsekuensi dari suatu perubahan. Pendidikan sebagai sarana terbaik yang di desain untuk menciptakan suatu generasi yang tidak akan kehilangan ikatan dengan tradisi mereka sendiri namun jugatidak menjadi bodoh secara intelektual atau terbelakang dalam pendidikan ataupun tidak menyadari adanya perkembangan-perkembangan di setiap cabang penegetahuan manusia.

Pada era reformasi, masyarakat Indonesia tergerak untuk melakukan perubahan di segala aspek kehidupan. Masyarakat Indonesia ingin mewujudkan perubahan dalam segala aspek termasuk yang tercantum dalam UUD 1945 alinea keempat, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun apakah realitas berbicara halyang sama?

Faktanya adalah kualitas pendidikan di Indonesia sangat memprihatinkan. Ini dibuktikan antara lain dengan data UNESCO (2000) tentang peringkat Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index), yaitu komposisi dari peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan, dan penghasilan per kepala yang menunjukkan, bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia makin menurun. Di antara 174 negara di dunia, Indonesia menempati urutan ke-102 (1996), ke-99 (1997), ke-105 (1998), dan ke-109 (1999).[1]

Jika kita cermati bersama sebenarnya telah banyak dilakukan pembaharuan dan tujuan dari pembaharuan itu pada akhirnya adalah untuk menjaga agar produk pendidikan itu tetap relevan dengan kebutuhan dunia kerja atau persyaratan bagi jenjang pendidikan berikutnya. Dan patut diakui juga bahwa pendidikan di Indonesia secara kuantitatif mengalami kemajuan, tetapi pemberdayaan masyarakat secara luas tidak pernah terjadi. Mengapa demikian? Karena Orde Baru setelah lima tahun pertama berkuasa, secara sistemik telah mempersiapkan skenario pemerintahan yang memiliki visi dan misi utama yaitu melestarikan kekuasaan dengan berbagai cara dan metode. Akibatnya sistem pendidikan dijadikan salah satu instrumen untuk menciptakan safety net bagi pelestarian kekuasaan. Ada empat ciri utama dalam masa Orde Baru dan dipertahankan hingga saat ini, yaitu :

  1. Sistem yang kaku dan sentralistik, yaitu suatu sistem pendidikan yang terperangkap di dalam kekuasaan otoritas yang pasti akan kaku sifatnya, karena ciri-ciri sentralisme yaitu birokrasi yang ketat.
  2. Dalam pelaksanaannya, sistem pendidikan nasional telah diracuni oleh unsur-unsur korupsi, kolusi, nepotisme, dan koncoisme.
  3. Sistem pendidikan tidak berorientasi pada pemberdayaan masyarakat, sehingga tujuan pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa telah sirna dan diganti dengan praktik-praktik “memberatkan” masyarakat untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas.
  4. Pada kenyataannya, sistem pendidikan kita sekarang belum mengantisipasi masa depan dan masyarakat madani, artinya belum mampu menyiapkan output yang sesuai dengan permintaaan pasar, kurang memiliki daya saing secara kompetitifdan outputnya hanya mengandalakan ijazah resmi dari bidang studi tertentu darisuatu lembaga pendidikan dengan kemampuan pas-pasan. Mayarakat madani adalah suatu komunitas masyarakat yang memiliki kemandirian aktifitas warga masyarakatnya yang berkembang sesuia dengan potensi budaya, adat istiadat, dan agama dengan mewujudkan dan memberlakukan nilai-nilai keadilan, prinsip kesetaraan (persamaan), penegakan hukum, jaminan kesejahteraan, kebebasan, kemajemukan, dan perlindunagn terhadap kaum minoritas.[2]

RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan masalah yang ada, penulis tertarik untuk merumuskan permasalahan yang ada, yaitu :

  1. Problematika apa yang terjadi dalam pendidikan nasional kita?
  2. Bagaimana peran pendidikan karakter terhadap pembentukan akhlak?
  3. Apa hubungan pendidikan berkarakter dalam memotivasi kemandirian masyarakat Islam Indonesia?

 

BAB II

ISI

Pendidikan merupakan sistem dan cara meningkatkan kualitas hidup manusia. Dalam sejarah umat manusia, hampir tidak ada kelompok maanusia yang tidak menggunakan pendidikan sebagai alat pembudayaaan dan peningkatan kualitasnya. Oleh karena itu  martabat suatu bangsa diukur dari budayanya. Kebudayaan suatu bangsa terbangun melalui proses pendidikan generasi. Kualitas pendidikan ditentukan oleh konsep, sistem dan SDM pendidikan sedangkan keberhasilan program pendidikan nasional dditentukan oleh political-will Pemerintah/negara. Bangsa besar tanpa kebudayaan yang tinggi tidakpernah biasa menjadi subyek, sebaliknya dijadikan obyek oleh bangsa lain yang lebih tinggi kebudayaannya meski negara kecil. Tanpa pendidikan yang memadai, kebudayaan bangsa tidak akan beranjak maju. Bahkan upaya pendidikan yang dilakukan oleh suatu bangsa akan sangat berpengaruh terhadap rekayasa bangsa di masa mendatang. M. Nasir menegaskan bahwa pendidikan merupakan salah satu faktor yang ikut menentukan maju mundurnya kehidupan masyarakat

PROBLEMATIKA PENDIDIKAN NASIONAL

Meninjau ulang pendidikan di Indonesia pada Orde Baru, bahwa saat itu sistem pendidikan nasional masih terkait dengan kehidupan politik bangsa. Padahal kondisi politik saat itu mempunyai pemerintah yang represif dan telah menghasilkan generasi-generasi yang tertekan, tidak kritis, bertindak dan berfikir dalam acuan suatu struktur kekuasaan yang hanya mengabdi pada kepentingan segelintir orang saja.

Oleh karena itu jika kita menengok kebijakan pendidikan Orde Baru, sekurang kurangnya ada sembilan poin kekeliruan pendidikan nasional kita, yaitu:[3]

  1. Pengelolaan pendidikan di madsa lampau terlalu berlebihan penekanannya pada aspek kognitif, mengabaikan dimensi-dimensi lainnya sehingga buahnya melahirkan generasi yang mengidap split personality, kepribadian yang pecah.
  2. Pendidikan terlalu sentralistik sehingga melahirkan generasi yang hanya bisa memandang Jakarta (ibu kota) sebagai satu-satunya tumpuan harapan tanpa mampu melihat peluang dan potensi yang tersediadi daerah masing-masing.
  3. Pendidikan gagal meletakkan sendi-sendi dasar pembangunan masyarakat yang berdisiplin.
  4. Gagal melahirkan lulusan (SDM) yang siap berkompetisi di dunia global.
    1. Pengelolaan pendidikan selama ini mengabaikan demokratisasi dan hak-hak asasi manusia. Sebagai contoh, pada masa Orde Baru, Guru Negeri di sekolah lingkungan Dikbud mencapai 1 guru untuk 14 siswa, tetapi di madrasah (Depag) hanya 1guru negeri untuk 2000 siswa. Anggaran pendidikan dari pemerintah misalnya di SMU negeri Rp. 400.000,-/siswa/tahun, sementara untuk Madrasah Aliyah hanya Rp. 4.000,-/anak/tahun.
    2. Pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan pendidikan dan SDM dikalahkan oleh uniformitas yang sangat sentralistrik. Kreatifitas masyarakat dalam pengembangan pendidikan menjadi tidak tumbuh.
    3. Sentralisasi pendidikan nasional mengakibatkan tumpulnya gagasan-gagasan otonomi daerah.
    4. Pendidikan nasional kurang menghargai kemajemukan budaya, bertentangan dengan semangat bhineka tunggal ika.
    5. Muatan indoktrinasi nasionalisme dan patriotisme yang dipaksakan, yakni melalui P4, PMP, terlalu kering sehingga kontraproduktif.

 

Sembilan kesalahan dalam pengelolaaan pendidikan nasional ini sekarang telah melahirkan buahnya yang pahit, yakni [4]

  1. Generasi muda yag langitnya renda, tidak memiliki kemampuan imajinasi idealistik.
  2. Angkatan kerja yang tidak bisa berkompetisi dalam lapangan kerja pasar gobal.
  3. Birokrasi yang lamban, korup dan tidak kreatif.
  4. Pelaku ekonomi yang tidak siap bermain fair
  5. Masyarakat luas yang mudah bertindak anarkis
  6. Sumberdaya alam (terutama hutan) yang rusak parah, Cendekiawan yang hipokrit,
  7. Hutang luar negeri yang tak tertanggungkan
  8. Merajalelanya tokoh-tokoh pemimpin yang rendah moralnya.
  9. Pemimpin-pemimpin daerah yang kebingungan. Bupati daerah minus tetap mengharap kucuran dari pusat, bupati daerah plus menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yang tidak strategis.

 

Jika kita sudah mengetahui problematika yang ada, apakah kita pantas untuk duduk diam?

Dalam al Qur’an surah Ibrahim ayat 26 yang artinya “Dan perumpamaan kalimat (kebijakan) yang buruk bagaikan pohon yang buruk, yang telah dicabut akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tegak sedikitpun.”

 

Esensi dari firman Allah SWT tersebut jika dikaitkan dengan kondisi bangsa Indonesia yaitu timbulah beberapa akibat buruk :

-       Karakter Bangsa Luntur

-        Bencana Meluas di bidang: krisis politik, ekonomi, moneter, kepercayaan, hukum , dll.

PENDIDIKAN BERKARAKTER

Pendidikan merupakan sistem dan cara meningkatkan kualitas hidup manusia dalam segala aspek kehidupan manusia.[5] Pendidikan merupakan bagian terpenting dari kehidupan manusia yang sekaligus membedakan manusiadengan hewan. Hewan juga “belajar”, tetapi lebih ditentukan oleh insting, sedangkan manusia, belajar berarti rangkaian kegiatan menuju pendewasaan menuju pendewasaan untuk kehidupan yang lebih berarti. Pendidikan memiliki peranan dalam mengangkat harkat dan martabat manusia yang berpengaruh pada eksistensi dan perkembangan manusia.

Pendidikan juga merupakan proses internalisasi budaya ke dalam diri seseorang dan masyarakat sehingga membuat orang dan masyarakat jadi beradab. Pendidikan bukan merupakan sarana transfer ilmu pengetahuan saja, tetapi lebih luas lagi yakni sebagai sarana pembudayaan dan penyaluran nilai (enkulturisasi dan sosialisasi). Anak harus mendapatkan pendidikan yang menyentuh dimensi dasar kemanusiaan. Dimensi kemanusiaan itu mencakup sekurang-kurangnya tiga hal paling mendasar, yaitu:

  1. Afektif yang tercermin pada kualitas keimanan, ketakwaan, akhlak mulia termasuk budi pekerti luhur serta kepribadian unggul, dan kompetensi estetis.
  2.  Kognitif yang tercermin pada kapasitas pikir dan daya intelektualitas untuk menggali dan mengembangkan serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
  3. Psikomotorik yang tercermin pada kemampuan mengembangkan keterampilan teknis, kecakapan praktis, dan kompetensi kinestetis.

Menurut Fuad Hasan, pendidikan adalah pemberdayaan. Perlu ditekankan agar tidak menjadi penafsiran yang mempersempit upaya pendidikan sebagai persekolahan.[6]

Menurut Gordon Alport (1897-1967), karakter merupakan “personality evaluated and epersonality is character devaluated”. Dalam pengertian yang lebih luas, Alport menjelaskan karakter sebagai organisasi dinamis di dalam individu yang terdiri dari sistem-sistem psikofisik yang menentukan perilaku dan pikiran secara karakteristik dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan.[7]

Pengertian karakter dari perspektif Simon Philips (2008), kumpulan tata nilai yang menuju pada suatu sistem, yang melandasi pemikiran, sikap dan perilaku yang ditampilkan. Sedangkan Doni Koesoema A (2007) memahami bahwa karakter sama dengan kepribadian. Kepribadian dianggap sebagai ciri, karakteristik, gaya atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan.

Sedangkan Imam Ghozali menganggap bahwa karakter lebih dekat dengan akhlaq, yaitu spontanitas manusia dalam bersikap atau melakukan perbuatan yang telah menyatu dalam diri manusia sehingga ketika muncul tidak perlu dipikirkan lagi.

Jadi, pendidikan berkarakter adalah membangun sifat atau pola perilaku yang didasari atau berkaitan dengan dimensi moral yang positif atau baik, bukan yang negatif atau buruk sehingga karakter tersebut akan dapat memberikan kontribusi besar dalam mewujudkan seluruh potensi dan cita-cita seseorang dalam membangun kehidupan yang baik, bermanfaat bagi dirinya, orang lain, serta bangsanya.

URGENSI PENDIDIKAN BERKARAKTER

Ketika bangsa Indonesia memasuki dunia global dimana arus informasi dan keterbukaan tak bisa dihindari, masyarakat Indonesia mengalami keterjutan budaya (shock culture), seperti halnya orang yag selama 32 tahun dalam penjara yang gelap gulita, tiba-tiba penjaranya dirobohkan dan mereka keluar melihat dunia baru yang terang benderang. Mereka berpesta pora melakukan apa saja yang sebelumnya mustahil dilakukan dan entah kapan mereka akan dapat berfikir tentang rencana masa depan yang realistis.

Tak hanya itu saja, generasi muda yang nantinya akan memegang estafeta kepemimpinan, yang akan meneruskan perjuangan generasi yang lalu justru ter-hipnotis oleh euforia sesaat seperti narkoba dan alkohol, seks bebas, tawuran, pemakaian produk-produk teknologi yang justru melupakan tugas mereka, yakni belajar. Belajar bisa dilakukan dimanapun asalkan masih dalam porsi yang positif. Tidak mudah memang menemukan orang-orang atau lingkungan yang peduli terhadap pendidikan berkarakter karena memang pada kenyataannya kita masih terjebak dalam paradigma bahwa proses pendidikan terdapat sekolah. Apakah dalam hal ini banyak orang tua yang menyerahkan pendidikan anak-anaknya hanya pada sekolah?

Pemahaman seperti itu terjadi pada masyarakat kita bahwa pendidikan adalah pembelajaran di sekolah formal untuk tingkat Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah. Jadi dibatasi sebagai persekolahan. Ruang lingkupnya adalah komplek sekolah dan segala isinya. Sebenarnta hasrat untuk membuat sekolah dimiliki oleh banyak orang atau lembaga, tetapi masih kurang pemilik hasrat yang mempertimbangkan dasar-dasar wawasan pendidik. Persekolahan dianggap sebuah kegiatan mulia dan guru merupakan pekerjaan terpuji.[8]

Lantas, apakah itu pendidikan yang sebenarnya?

Sebelum menjelaskan seperti apa pendidikan yang ideal, ada beberapa kritik terhadap guru yang disampaikan oleh Paulo Freire, yaitu :[9]

  1. Guru mengajar, murid belajar
  2. Guru tahu segalanya, murid tidak tahu apa-apa
  3. Guru berpikir, murid dipikirkan
  4. Guru bicara, murid mendengarkan
  5. Guru mengatur, murid diatur
  6. Guru memilih dan memaksakan pilihannya, murid menuruti
  7. Guru bertindak, murid membayangkan bagaimana bertindak sesuai dengan tindakan gurunya
  8. Guru memilih apa yang diajarkan, murid menyesuiakan diri
  9. Guru mengacaukan wewenang ilmu pengetahuan dengan wewenang profesionalismenya dan murid tidak punya wewenang atau kebebasan murid-murid ditiadakan
  10. Guru adalah subyek proses belajar, murid hanya obyeknya

Dewasa ini banyaksekolah yang secara sadar maupun tidak telah membunuh banyak potensi siswa-siswi didiknya. Seperti yang dikatakan oleh Munif Chatib bahwa banyak sekali sekolah di negeri ini yang yang berpredikat SEKOLAH ROBOT ; mulai dari proses pembelajaran, target keberhasilan sekolah, sampai pada sistem penilaiannya. Padahal membangun sekolah, hakikatnya adalah membangun keunggulan sumber daya manusia.Di sinilah peran pendidikan berkarakter, pendidikan yang tak hanya menekankan pada aspek kognitif saja.

Pendidikan karakter akan mengembangkan semua potensi anak sehingga menjadi manusia seutuhnya. Dalam hal ini, perkembangan anak harus seimbang, baik dari segi akademiknya maupun segi sosial dan emosinya. Pendidikan selama ini hanya memberi penekanan pada aspek kognitif saja dan tidak mengembangkan aspek sosial, emosi, kreatifitas, dan bahkan motorik. “Anak hanya dipersiapkan untuk dapat nilai bagus, namun mereka tidak dilatih untuk bisa hidup secara mandiri.

 

  1. INDIKATOR PENDIDIKAN BERKARAKTER
  • Cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya

(love Allah, trust, reverence, loyalty)

  • Tanggung jawab, kedisiplinan dan kemandirian

(responsibility, excellence, self reliance, discipline, orderliness)

  • Kejujuran/Amanah dan Arif

(trustworthines, honesty, and tactful)

  • Hormat dan Santun

(respect, courtesy, obedience)

  • Dermawan, Suka menolong dan Gotong-royong/Kerjasama

(love, compassion,caring, empathy, generousity, moderation, cooperation)

  • Percaya Diri, Kreatif dan Pekerja keras

(confidence, assertiveness, creativity,resourcefulness, courage, determination, enthusiasm)

  • Kepemimpinan dan Keadilan

(justice, fairness, mercy, leadership)

  • Baik dan Rendah Hati

(kindness, friendliness, humility, modesty)

  • Toleransi, Kedamaian dan Kesatuan

(tolerance, flexibility, peacefulness, unity)

KORELASI PENDIDIKAN KARAKTER DENGAN MOTIVASI

  1. Fungsi pendidikan pendidikan karakter

Karena pendidikan karakter terkait dengan kekuatan moral, berkonotasi “positif”, bukan netral. Jadi orang yang berkarakter adalah orang yang mempunyai kualitas moral (tertentu) positif. Adapun fungsi dari pendidikan karakter, yaitu :

  • Sarana pembudayaan dan penyaluran nilai
  • Sarana memanusiakan manusia

Menurut Munif Chatib, kecerdasan seseorang dapat dilihat dari banyaknya dimensi, tidak hanya kecerdasan verbal (berbahasa) atau kecerdasan berbahasa atau kecerdasan logika.[10] Maka pendidikan karakter yang sekarang ini menjadi isu di dunia pendidikan harus segera di realisasikan. Mengapa demikian? Karena pendidikan karakter akan menjadi kontrol individu dan sosial terhadap merajalelanya kejahatan di negeri ini.

  1. Motivasi

ü  Pengertian

Motivasi berasal dari kata “motif” yang berarti dorongan. Motif ini mendorong seseorang untuk melakukan tindakan tertentu dan motif akan membantu kita dalam memprediksi perilaku. Motivasi adalahsuatu penggerak dari hati seseorang untuk melakukan atau mencapai tujuan tertentu. Dengan mengetahui motivasi seseorang, kita lebih mudah dalam melakukan manipulasi psikologis dengan tujuan mengarahkan kepada tujuan yang baik. Individu atau kelompok yang melakukan segala sesuatunya karena motivasi, entah motivasi internal maupun eksternal akan menimbulkan tingkat persistensi dan entusiasme dalam melaksanakan suatu kegiatan.

ü  Teori-teori motivasi

Ada beberapa teori motivasi namun yang ingin penulis sebutkan ada 2, yaitu :

i. Teori Kebutuhan Abraham H. Maslow

Manusiamemilikikebutuhanpokokdalam 5 tingkatan yang berbentuk pyramid. Orang memulaidorongandaritingkatanterbawah.Lima tingkatkebutuhanitudikenaldengansebutanHirarkiKebutuhan Maslow. Pemenuhankebutuhandimulaidarikebutuhanbiologisdasarsampai motif psikologis yang lebihkompleks; yang hanyaakanpentingsetelahkebutuhandasarterpenuhi.Kebutuhanpadasuatuperingkat paling tidakharusterpenuhisebagiansebelumkebutuhanpadaperingkatberikutnyamenjadipenentutindakan yang penting. Berikut adalah bagan Hierarchy Kebutuhan Maslow

ii. Achievment Theory Mc Clelland

David McClelland (1961), menyatakanbahwaadatigahalpenting yang menjadikebutuhanmanusia, yaitu:need for achievement (kebutuhanakanprestasi), need for afiliation (kebutuhanakanhubungansosial), need for Power (doronganutkberkuasa).

  1. Korelasi antara pendidikan karakter terhadap motivasi menuju kemandirian masyarakat Islam Indonesia.

Mencoba memahami permasalahan pendidikan di negeri ini, banyak gejolak di mana mana terkait dengan hak asasi manusia, kemiskinan, pelanggaran hukum, tawuran, pendidikan, dll. Semua terkait dengan permasalahan individu dan kelompok. Kenapa bisa begitu? Siapakah yang bersalah? Akan membutuhkan waktu yang lama ketika kita mengungkapkan siapa yang salah, siapa saja yang tega berkhianat menjajah negeri ini. Padahal penjajahnya sendiri adalah orang-orang bangsa kita.

Tak pantas menutup mata, apalagi bersikap apatis terhadap fenomena yag ada. Ini menjadi tanggung jawab kita bersama. Jika hanya menggunakan strategi represif (memberi tekanan) tak selamanya menjadi solusi, perlu tindakan yang komprehensif. Tak hanya preventif tapi juga praksis. Dalam artian melakukan penyadaran kondisi-situasi, menggunakan tema pendidikan partisipatifnya Paulo Freire pendidikan hadap masalah. Dengan memfasilitasi generasi bangsa untuk bertemu dengan dunia realitas, baik realitas luar diri dan juga dalam dirinya diharapkan dapat menciptakan kesadaran kritis untuk menjadi lebih baik dan menjadi penganjur kebaikan.

Bagaimana caranya sehingga cita-cita mulia ini bisa terwujud?

Penulis berasumsi bahwa cita-cita tersebut bisa terwujud hanya dengan pendidikan yang berkarakter. Pendidikan karakter, sesuai dengan citanya akan mendidik seseorang yang tak hanya siap dengan perubahan dan tantangan yang ada namun seperti yang dikatakan sebelumnya, yakni menjadi generasi yang lebih baik dan menjadi penganjur kebaikan. Mengapa harus menjadi penganjur kebaikan? Karena manusia adalah makhluk sosial yang hidup di tengah masyarakat dan akan saling mempengaruhi. Oleh karena itu dibutuhkan kesadaran yang bersifat kelompo. Seperti halnya pepatah sahabat Ali r.a bahwa “kejahatan yang terorganisir akan mengalahkan kebaikan yang  tidak terorganisir”. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa memang ada sebuah gerakan yang menghancurkan sebuah paradigma pendidikan yang selama ini dipertahankan.

Makna penting pendidikan karakter tentu akan ter-cover dengan jelas ketika diaplikasikan, pendidikan karakter akan menumbuhkan mental yang mandiri dan berani menghadapi tantangan yang ada. Karena salah satu manfaat pendidikan karakter adalah masing-masing personal mengetahui potensi-potensi yang dimiliki sehingga hal ini menimbulkan “mindset” bahwa dengan segala potensi yang dimiliki setiap individu mampu berkarya. Tak hanya mengandalkan orang lain namun kita bisa memaksimalkan kapasitas yang kita punya untuk bermanfaat bagi diri kita dan orang lain.

Sebagian masyarakat indonesia adalah beragama Islam, maka jika pelaksanaan pendidikan karakter dilakkan dengan maksimal tentunya akan memberikan sumbangsih pada kemajuan umat. Mengapa? Penulis ingat akan kepemerintahan ketika Nabi Muhammad saw. saat itu hidup dengan masyarakat yang berbeda keyakinan, nilai, dan tradisi. Namun Nabi Muhammand mampu mengondisikan perbedaan yang ada sebagai sebuah keniscayaan. Soal kemandirian, beliau adalah seorang pedagang yang secara otomatis independen, tidak terikat pada orang lain. Berdasarkan buku yang penulis baca tentang masyarakat madani, bahwa penulis memahami bahwa “model” pendidikan berkarakter sebenarnya pernah diterapkan pada zaman nabi Muhammad saw. Beliau tidaka menghilangkan perbedaan yang ada namun beliau mendidik rakyatnya sesui dengan karakter yang ada pada masyarakat itu.

Daripaparan tersebut, setidaknya bisa dijadikan referensi bahwa secara budaya dan agama bangsa Indonesia beragam seperti halnya ketika zaman Nabi Muhammad saw. Jadi, dibenarkan ketika kita mengusung ide pendidikan karakter sebagai solusi dalam memotivasi kemandirian umat Islam Indonesia.sehingga cepat atau lambat umat Islam tidak ketergantungan pada bangsa lain.

PENUTUP

Sepeninggal rezim Presiden Soeharto, mencari jati dirinya kembali tapi dalam prosesnya masih kebingunan karena permasalahan yang komplikatif, antara kerinduan kepada demokratisasi, kebebasan, kemakmuran, dan kehormatan ternya tidak sinkron. Problem solving yang dilakukan oleh pemerintah, DPR dan Mpr hampir semuanya berjangka pendek, kurang bersistem dan terasa sekali nuansa improvisasi karena hampir semua warga Indonesia secara psikologis masih dalam posisi menikmati euforia kebebasan dari penjara gelap selama 32 tahun.
Sudah sepuluh tahun lebih reformasi, pesta eforia masih juga belum usai, dan perilaku ”anarkis” yang sesungguhnya memuakkan itu selalu muncul setiap kali menjelang pesta demokrasi; pileg atau pilpres. Anggaran pendidikan yang ditetapkan sejak APBN 2009 sesungguhnya sudah lumayan mencapai 20% tapi belum diikuti dengan kreatifitas yang memadai dalam bidang pendidikan. Jika kita menyaksikan perilaku ”kita” di TV terasa sekali kita seperti bangsa yang tidak berkarakter.

Oleh karena itu, penulis berharap isu pendidikan karakter tak hanya menjadi wacana belaka. Penulis menyadari tidaklah mudah merealisasikan pendidikan berkarakter, persoalannya adalah “kita” ingin berubah tidak?

Jika kita hanya bisa menerima keadaan saja, bersiaplah untuk digilas roda zaman. Bukan kita yang merubah tapi justru kita yang akan dirubah oleh zaman. Selamatkan generasi kita.



[2]Drs. Hujair AH. Sanaky, Msi, Paradigma Pendidikan Islam:Membangun Masyarakat Madani Indonesia, (Yogyakarta: Safiria Insania Press bekerjasama dengan MSI UII, 2003), hal 13

[3]Muubarok institute

[4]Mubarok Institute

[5]Drs. Hujair AH. Sanaky, Msi, Paradigma Pendidikan Islam:Membangun Masyarakat Madani Indonesia, (Yogyakarta: Safiria Insania Press bekerjasama dengan MSI UII, 2003), hal 4.

[6]Utomo Dananjaya, Sekolah Gratis : Esai-esai Pendidikan yang membebaskan, (Jakarta : Paramadina, 2005), hal 13.

[7]Munirul Amin dan Eko Harianto, Psikologi Kesempurnaan : Membentuk Manusia Sadar Diri dan Sempurna, (Yogyakarta :Matahati, 2005), hal 74.

[8]Utomo Dananjaya, Sekolah Gratis : Esai-esai Pendidikan yang membebaskan, (Jakarta : Paramadina, 2005), hal 13.

[9]Ibid, hal 26.

[10]Munif Chatib, Sekolahnya Manusia, (Bandung : Kaifa,2011), hal 75.

DAFTAR PUSTAKA

  • Hujair AH. Sanaky, Drs.,Msi, Paradigma Pendidikan Islam:Membangun Masyarakat Madani Indonesia,  Yogyakarta,  Safiria Insania Press bekerjasama dengan MSI UII, 2003.
  • Munif Chatib, Sekolahnya Manusia, Bandung , Kaifa, 2011.
  • Utomo Dananjaya, Sekolah Gratis : Esai-esai Pendidikan yang membebaskan, Jakarta, Paramadina, 2005.
  • Munirul Amin dan Eko Harianto, Psikologi Kesempurnaan : Membentuk Manusia Sadar Diri dan Sempurna, Yogyakarta , Matahati, 2005.
  • Pokja Akademik UIN SUNAN KALIJAGA, Psikologi Umum, Yogyakarta, Pokja Akademik, 2006.

Social Share Toolbar
2 Comments
  1. satu langkah membangun Indonesia
    sipz, Bu Bendum (kini)

Leave a Reply